banner 728x250

Menakar Sengkarut Futsal Kalbar: Ketika Seleksi Menjadi Topeng Kegagalan Pembinaan

NARASIKALBAR.COM – Proses seleksi pemain futsal seharusnya menjadi muara dari sebuah sistem pembinaan yang sehat, bukan sekadar jalan pintas untuk menutupi bobroknya tata kelola pembinaan sejak usia dini. Saat ini, fenomena seleksi instan kerap dianggap sebagai solusi utama untuk membangun tim berprestasi. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya, kata seleksi pemain adalah indikator nyata bahwa ada sesuatu yang sangat salah dalam fundamental pembinaan futsal kita di Kalbar, mulai dari akar rumput hingga pucuk organisasi yang mewadahi futsal itu sendiri.

Cover atau sampul buku futsal Kalbar memang terlihat menarik, dengan tingginya animo futsal pada setiap event, partisipasi olahraga futsal yang hampir menyentuh semua kalangan, bahkan kita punya tim futsal kebanggaan Bernama Pangsuma Fc yang menjadikan Kalbar sebagai salah satu provinsi dengan tim futsal terbaik. Tetapi coba kita lihat isinya bukunya, berapa banyak pemain lokal yang melanjutkan kiprahnya di level professional atau minimal bermain di tim futsal kebanggaan Kalbar itu, berapa banyak pelatih dan wasit yang berlisensi dan berkiprah di tim-tim profesional atau bertugas di event-event profesional, adakah jenjang kompetisi yang jelas? Tentu ini pertanyaan yang akan menjawab bagaimana isi buku futsal Kalbar.

Covernya bagus tapi isinya sengkarut.

Menurut saya sengkarutnya futsal kita hari ini ada dalam tiga dosa besar sistemik.

Pertama; Ilusi Pembinaan Usia Dini: Menuntut Instan, Melupakan Fondasi.
Pembinaan usia dini di Kalbar masih berjalan meraba-raba tanpa cetak biru (blueprint) yang jelas dan seragam. Banyak akademi atau klub lokal yang terjebak pada orientasi hasil jangka pendek (result-oriented) daripada pengembangan pemain (development-oriented) jangka panjang. Sehingga menghasilkan :
Eksploitasi Fisik atas Skill: Anak-anak dipaksa bermain demi memenangkan trofi plastik di turnamen lokal, ketimbang diajarkan pemahaman taktik dasar, pengambilan keputusan, dan teknik fundamental futsal modern.
Standarisasi Pelatih yang Rendah: Banyak pelatih usia dini yang mengandalkan intuisi atau sekadar pengalaman mantan pemain futsal, sepakbola ataupun guru olahraga dengan basic pendidikannya tanpa sertifikasi futsal yang spesifik serta pemahaman psikologi anak. Banyak pelatih yang merasa dirinya bak dewa ketika membawa timnya sering juara dan kemudian menganggap bahwa juara adalah satu-satunya indikator pelatih yang bagus dan berkualitas.
Start Syndrome : banyak pemain kita yang Ketika mencapai puncak prestasi kompetisi lokal, bersikap seolah pemain Bintang yang merasa bahwa mereka sudah hebat, tidak perlu latihan dan pasti akan sukses, punya skill Bintang 5 tapi kadang adabnya Bintang 1, ini adalah bentuk nyata dari gagalnya pendekatan psikologi pemain yang harusnya di berikan oleh pelatih dilapangan dan orang tua dirumah.

Kedua ; Kompetisi yang Sekedar Proyek, Bukan Proses
Kompetisi adalah laboratorium bagi seorang atlet. Namun, sistem kompetisi futsal kita saat ini gagal menjadi wadah pematangan karena sifatnya yang sporadis dan tidak berkelanjutan.
Format Turnamen “Setor Duit”: Alih-alih liga jangka panjang, kompetisi usia muda didominasi oleh turnamen knock-out berdurasi 2-3 hari. Format ini membunuh menit bermain yang sangat dibutuhkan pemain untuk berkembang.
Ketiadaan Piramida Kompetisi yang Jelas: Tidak ada jalur linier (jenjang karir) yang menghubungkan antara kompetisi usia dini (Fun Phase) U5-U8 ke fase (fundamenta) U9-U12 ke fase (formative) U13-U16 ke fase (senior) U17-U20, hingga tingkat profesional. Akibatnya, banyak talenta berbakat menguap begitu saja setelah lulus sekolah karena tidak tahu harus ke mana.

Ketiga ; Manajemen Organisasi yang Lemah dan Birokrasi yang Usang
Di puncak piramida, kelemahan manajemen organisasi (baik di tingkat asosiasi daerah, provinsi hingga pusat) menjadi batu sandungan terbesar. Padahal futsal kita bukan lagi sedang berkembang tapi sudah maju yang dibuktikan dengan peringkat 14 dunia. Menurut saya ada hal mendasar yang perlu di benahi :
Pendekatan Dadakan (Ad-hoc): Pembentukan tim nasional atau tim daerah untuk ajang resmi seringkali dilakukan secara mendadak melalui seleksi terbuka beberapa minggu sebelum turnamen. Ini adalah bukti nyata kemalasan organisasi yang gagal memantau bakat secara berkelanjutan.
Nepotisme dan Subjektivitas Seleksi: Karena ketiadaan database performa pemain yang berbasis data statistik objektif, proses seleksi akhirnya rawan disusupi kepentingan non-teknis, kedekatan personal pelatih, atau “titipan” pengurus.
Organisasi rumah hantu ; Ketidakjelasan jobdesk dan ketidakpahaman pengurus organisasi dalam mengelola futsal di daerah kerap menjadi penghalang pembinaan. Organisasi ada namun tak ada program yang jalan, talenta pemain ada namun tak ada kompetisi yang di Kelola, sehingga organisasi hanya rumah kosong tak berpenghuni.

Oleh karena itu selama seleksi hanya dijadikan ritual musiman untuk mencari “bakat ajaib” tanpa didukung oleh pembinaan usia dini yang terstruktur, liga yang kompetitif dan kontinue, serta organisasi yang profesional, maka prestasi futsal kita hanya akan menjadi komoditas keberuntungan. Kita tidak kekurangan bakat, kita kekurangan sistem yang sehat untuk merawat bakat tersebut. Sudah saatnya merombak total cara pandang kita: seleksi adalah produk akhir, dan produk yang baik hanya lahir dari pabrik pembinaan yang bekerja dengan benar.

Penulis : Putra Sastaman S.Pd, M.Or, AIFO-P ( Akademisi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Tanjungpura dan Praktisi Futsal Kalbar )

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *