NARASIKALBAR.COM, KUBU RAYA– Pemerintah Desa Medan Mas bersama masyarakat dan komunitas terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem pesisir. Dengan luas kawasan mangrove mencapai 182 hektare, desa ini konsisten melindungi habitat alam dari ancaman perusakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Kepala Desa Medan Mas, Wira Dharma, menjelaskan perlindungan kawasan mangrove tersebut diperkuat secara hukum melalui Peraturan Desa (Perdes) Nomor 5 Tahun 2023 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Aturan ini ditegakkan bersama masyarakat dan tim smart patrol guna memastikan kawasan mangrove tetap terjaga dengan baik tanpa adanya alih fungsi atau penebangan liar.
“Kami terus konsistensi dan komitmen dengan masyarakat. Kawasan ini kami lindungi bersama dengan regulasi desa agar tidak dirusak, sekaligus menjadi masa depan bagi generasi anak cucu kami,” ujar Wira Dharma.
Hal tersebut disampaikan saat eksplorasi kawasan Mangrove Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu, 25 Juli 2026 sore. Eksplorasi ini merupakan bagian dari kegoatan Kolase Journalist Camp (KJC) 2026 bertajuk ‘Peringatan International Mangrove Day: Reconnecting Mangrove’ yang berlangsung selama tiga hari hingga 26 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis antara Yayasan Kolase, Yayasan Hutan Biru (Blue Forests), Blue Ventures dan Pemerintah Desa Medan Mas, dalam upaya memperkuat narasi pelestarian ekosistem mangrove di tingkat tapak
Learning Center Jadi Pusat Pembelajaran Mangrove
Sebagai wujud keseriusan dalam pelestarian dan pengembangan ekowisata, Desa Medan Mas kini telah menyiapkan lahan seluas 2 hektare milik desa yang dihibahkan oleh masyarakat. Kawasan tersebut dinamai Learning Center, yang difungsikan sebagai pusat pembelajaran mangrove bagi warga lokal, pelajar, generasi mudanya, maupun masyarakat luas yang ingin mendalami ekosistem pesisir.
Tidak hanya menarik wisatawan lokal, kawasan konservasi ini bahkan telah menarik minat wisatawan mancanegara, termasuk pengunjung dari Afrika pada tahun 2024. Menurut Wira Dharma, daya tarik utama yang diincar para pelancong ialah keaslian habitat mangrove, melihat langsung 12 jenis mangrove, satwa langka seperti bekantan, serta menikmati keindahan lanskap alam yang masih asri.
Rencana Pembangunan Ekowisata dan Kendala yang Dihadapi
Dalam upaya mengembangkan potensi ekowisata ke depan, Pemdes Medan Mas telah merancang pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jalur tracking mangrove sepanjang 500 meter hingga 1 kilometer. Pembangunan ini diharapkan dapat memperluas akses jangkauan pengunjung ke area depan kawasan mangrove.
Namun, Wira Dharma tidak memungkiri dalam pengembangan ekowisata ini masih menemui sejumlah tantangan, terutama terkait keterbatasan sarana dan prasarana serta jangkauan pemasaran yang membuat kunjungan wisatawan masih didominasi oleh skala lokal.
Meski demikian, pihak desa terus berupaya mengoptimalkan alokasi Dana Desa untuk membangun fasilitas penunjang, seperti jembatan akses, guna memudahkan mobilitas warga dan wisatawan yang berkunjung ke Desa Medan Mas.
















