banner 728x250

Eksplorasi Desa Medan Mas Kubu Raya: Simpan 12 Jenis Mangrove hingga Potensi Produk Hasil Hutan Bukan Kayu

banner 468x60

NARASIKALBAR.COM, KUBU RAYA – Kawasan mangrove di Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi serta potensi pemanfaatan ekologis dan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Field Officer Yayasan Hutan Biru atau Blue Forest, Ahmad Juwadi, menjelaskan berdasarkan hasil eksplorasi, terdapat kurang lebih 12 jenis mangrove di wilayah tersebut, yang mencakup jenis mangrove sejati maupun mangrove asosiasi.

banner 1024x1500

“Kalau jenis mangrove, memang sebenarnya banyak ya di Indonesia, terutama di global. Tapi di Desa Medan Mas, ini terdata dari hasil eksplorasi, total kurang lebih ada 12 jenis, itu termasuk mangrove sejati dengan mangrove asosiasi yang ada di sini,” ujar Ahmad Juwadi.

Pernyataan itu disampaikan oleh Ahmad setelah memimpin ekplorasi kawasan mangrove di pesisir Desa Medan Mas bersama para jurnalis dan creator content serta rombongan dari komunitas masyarakat setempat pada Jumat, 24 Juli 2026.

Eksplorasi ini menjadi awal kegiatan Kolase Journalist Camp (KJC) 2026 bertajuk ‘Peringatan International Mangrove Day: Reconnecting Mangrove’ yang berlangsung selama tiga hari hingga 26 Juli mendatang.

Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis antara Yayasan Kolase, Yayasan Hutan Biru (Blue Forests), Blue Ventures dan Pemerintah Desa Medan Mas, dalam upaya memperkuat narasi pelestarian ekosistem mangrove di tingkat tapak

Dari segi ekosistem, Ahmad memaparkan wilayah Medan Mas memiliki dua tipologi utama, yakni kawasan hutan mangrove serta tipologi tambak yang diperuntukkan sebagai perikanan budidaya sejak tahun 1800-an. Saat ini, sisa kawasan mangrove seluas 182 hektare di desa tersebut dikelola bersama oleh pemerintah desa bersama kelompok dampingan Blue Forest, seperti kelompok pengawas (pokmaswas), kelompok patroli, hingga kelompok ibu-keluarga pengelola sampah (pok-samas).

“Jadi, mangrove yang tersisa 182 hektare di Medan Mas itu dijadikan sebagai green belt. Green belt itu sebagai zona terdepan ataupun zona penyangga bagi komoditas di belakangnya, salah satunya perikanan budidaya, yaitu tambak-tambak dengan perkebunan yang ada di Medan Mas,” ungkap Ahmad.

Terkait upaya pemulihan, pihak yayasan lebih memfokuskan pada program perlindungan terhadap kawasan mangrove yang tersisa seluas 182 hektare tersebut. Sementara itu, untuk area tambak yang pengelolaannya berada di tangan masyarakat dan difungsikan sebagai lahan budidaya, belum ada intervensi penanaman atau rehabilitasi khusus.

Selain berfungsi sebagai penjaga kestabilan ekosistem, penyerapan karbon, dan pengatur mikroiklim, ekosistem mangrove di Desa Medan Mas juga memiliki potensi ekonomi yang besar melalui pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Pihak yayasan bersama masyarakat aktif mendorong pemanfaatan non-kayu guna meningkatkan taraf hidup dan alternatif sumber pencaharian warga. Berbagai produk olahan kreatif telah dikembangkan dari kawasan ini.

“Kalau kemanfaatan, sebenarnya kami di sini lebih dorong HHBK, Hasil Hutan Bukan Kayu, dari mangrove. Jadi, mangrove selain sebagai jasa ekosistem, baik itu karbon, kemudian sebagai mikroiklim di sini, dia juga dimanfaatkan sebagai HHBK yang salah satunya ada teh jeruju, kemudian ada madu mangrove, ada budidaya madu kelulut, dan banyak seperti daun, buah, dapat diolah teman-teman di sini menjadi berbagai produk. Dan itulah yang kita dorong sebagai alternatif pencaharian masyarakat itu sendiri,” pungkas Ahmad.

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *