Pontianak – Dalam upaya meningkatkan kemandirian Pondok Pesantren dalam bidang pertanian berkelanjutan dan pemanfaatan limbah organik, Dosen Universitas Panca Bhakti melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Program ini berfokus pada pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC), teknik pengaplikasian POC, serta strategi branding produk di Pondok Pesantren Hilyatul Musaffa Al Qudwah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan santri dan pengelola pesantren dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat serta berkontribusi pada ketahanan pangan dan ekonomi berkelanjutan.
Pelatihan yang berlangsung pada 23 Maret 2025 ini mengajarkan pemanfaatan limbah cangkang telur, kulit pisang, dan air cucian beras sebagai bahan utama pupuk organik cair. Ketiga bahan ini dipilih karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan manfaatnya bagi kesuburan tanah serta pertumbuhan tanaman. Cangkang telur kaya akan kalsium karbonat (CaCO₃) yang dapat meningkatkan pH tanah, memperkuat dinding sel tanaman, serta mencegah defisiensi kalsium. Kulit pisang mengandung kalium (K) yang penting dalam proses fotosintesis dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit. Sementara itu, air cucian beras memiliki kandungan karbohidrat, vitamin B, serta mineral seperti nitrogen (N) dan fosfor (P), yang berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroorganisme tanah dan merangsang pertumbuhan tanaman.
Selama pelatihan, peserta diajarkan teknik fermentasi sederhana namun efektif untuk mengolah bahan-bahan tersebut menjadi pupuk organik cair berkualitas tinggi. Proses ini meliputi pencampuran bahan, penambahan bioaktivator, fermentasi dalam wadah tertutup, serta cara penggunaan pupuk yang optimal pada tanaman sayuran. Selain itu, peserta juga memperoleh pelatihan dalam pengemasan produk pupuk organik cair yang menarik serta pemasaran digital.
Ketua tim pengabdian, Ida Ayu Suci, menyampaikan bahwa teknologi ini mudah diterapkan dan memberikan dampak positif bagi sektor pertanian. “Dengan memanfaatkan limbah organik yang tersedia di sekitar, pondok pesantren dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetik sekaligus menghemat biaya operasional pertanian. Selain itu, pupuk organik cair ini bersifat ramah lingkungan, mampu meningkatkan kesuburan tanah, serta mendorong produktivitas tanaman secara alami,” ujarnya.
Kegiatan PKM ini melibatkan dua dosen dari Universitas Panca Bhakti, yakni Rini Suryani dan Sherly Oktarianti, serta dua mahasiswa, Della Nataliani dan Mai Yulita. Dalam program ini, Rini Suryani bertanggung jawab dalam pelatihan aplikasi POC pada tanaman, sementara Sherly Oktarianti membimbing peserta dalam strategi branding produk dan pemasaran digital. Selain mendukung pertanian berkelanjutan di lingkungan pondok pesantren, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dengan masyarakat, mengasah keterampilan, serta berbagi ilmu secara nyata.
Program ini mendapat sambutan antusias dari para santri dan pengelola pesantren. Ketua Pondok Pesantren Hilyatul Musaffa Al Qudwah, Irse Desy Yana, mengungkapkan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat dalam mendukung program kemandirian pangan di pesantren. “Kami sangat bersyukur dengan adanya pelatihan ini. Santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair. Ini memberikan keterampilan baru yang dapat mereka manfaatkan baik di lingkungan pesantren maupun di masyarakat,” ungkapnya.
Selain itu, program ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian santri terhadap pentingnya pengelolaan limbah organik dan praktik pertanian berkelanjutan. Dengan memproduksi pupuk organik sendiri, pesantren dapat mengurangi dampak negatif limbah domestik serta menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Ketua tim pengabdian, Ida Ayu Suci, menegaskan bahwa program PKM ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Panca Bhakti dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan berbasis teknologi ramah lingkungan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya akademisi dalam menerapkan konsep pertanian berkelanjutan dan sirkular di berbagai sektor masyarakat, termasuk pondok pesantren.
“Diharapkan, dengan adanya pelatihan ini, Pondok Pesantren Hilyatul Musaffa Al Qudwah dapat terus mengembangkan sistem pertanian mandiri yang lebih produktif, hemat biaya, dan ramah lingkungan. Ke depan, diharapkan para santri dapat menjadi agen perubahan dalam pengelolaan pertanian organik dan keberlanjutan lingkungan di komunitas mereka masing-masing,” pungkasnya.














