banner 728x250

Mengapa Negara Religius Justru Lebih Rentan Terjerat Praktik Korupsi?

banner 468x60

NARASIKALBAR.COM — Negara yang mayoritas memeluk agama, kenapa seringkali terlibat praktik korupsi, padahal kajian dan ceramah keagamaan sering digelar dimasjid, nama Tuhan dipanggil tak henti-henti. Namun aneh, semakin sering namanya disebut, semakin sering pula kita menyaksikan tangan-tangan kotor menyelinap ke laci negara, sepertinya kita salah paham tentang kesalehan atau agama hanya sebagai tameng belaka untuk membenarkan suatu prilaku yang salah?

dalam Buku 11 Fakta Era Google karya Denny JA menyodorkan cermin yang transparan membuktikan negara-negara yang warganya paling bahagia justru bukan yang paling sibuk mengurus agama. Finlandia, Denmark, Norwegia, Swedia, Belanda, Swiss semuanya masuk jajaran negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi, sementara mayoritas warganya mengaku agama tidak lagi terlalu penting dalam kehidupan sehari-hari. Di Swedia, hanya sekitar 15 persen warga yang menganggap agama penting. Di Denmark, sekitar 19 persen. Di Norwegia, sekitar 22 persen.

banner 1024x1500

Mereka tidak ramai memamerkan iman, tetapi tekun merawat keadilan. Mereka tidak sibuk memperdebatkan surga, tetapi sibuk memastikan sekolah gratis, rumah sakit terjangkau, hukum tegas, dan pejabat tak kebal jerat pidana. Di sana, negara hadir sebagai pelayan, bukan peminta setoran.

Sementara kita?
Kita bangga menjadi bangsa yang religius. Indonesia, India, Mesir, Arab Saudi negara-negara yang di atas 90 persen penduduknya menyatakan agama sangat penting dalam hidup justru banyak berkutat pada korupsi, rendahnya kualitas pendidikan, dan ketimpangan kesejahteraan. Kita rajin mengutip ayat, tapi sering lupa menepati amanat. Kita gemar menghakimi iman orang lain, tapi mudah memaklumi pencurian asal pelakunya satu barisan.

Lucunya, ketika korupsi dibongkar, yang pertama tersinggung justru agama. Seolah-olah mengkritik maling sama dengan menghina Tuhan. Padahal yang sedang kita gugat bukan langit, melainkan tangan-tangan rakus yang berlindung di balik sorban, jas, atau slogan suci.

Di era Google ini, semua data terbuka. Dunia membaca bahwa tingkat keberagamaan yang tinggi tidak otomatis melahirkan negara yang bersih. Justru di banyak tempat, semakin religius sebuah bangsa, semakin tinggi pula toleransinya pada penyalahgunaan kekuasaan. Ini bukan celaan pada agama, melainkan pada cara kita memperlakukannya.

Mungkin inilah keadaan kita saat ini, terlalu sering menyebut Tuhan, tetapi jarang meniru sifat-Nya. Kita rajin berdoa, tetapi malas berlaku adil. Kita gemar menuntut surga, tetapi enggan membersihkan kecil dari kecurangan kecil yang terus dibiarkan.

Kalau begini caranya, jangan heran bila negeri ini penuh masjid tapi miskin kejujuran, penuh doa tapi sepi rasa malu.

Penulis: Fahrurrozi

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *