banner 728x250
Berita  

Mengupas Jejak Perjuangan dan Peradaban Syekh Ahmad Khatib Sambas di Seminar Nasional MABM Teriak

NARASIKALBAR.COM, BENGKAYANG – Pengurus Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kecamatan Teriak sukses menggelar Seminar Nasional dan Seminar Ilmiah bertajuk “Syekh Ahmad Khatib Sambas: Jejak Perjuangan, Dakwah dan Pendidikan Untuk Peradaban Bangsa” pada hari ini, Sabtu (8/8/2026).

Acara yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB di Balai Bepakat, Kabupaten Bengkayang ini, diselenggarakan dalam rangka memperingati Haul ulama besar Nusantara tersebut.

Kegiatan yang sarat akan nilai sejarah dan pendidikan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang.

Dukungan terhadap acara ini terlihat dari antusiasme peserta yang datang dari berbagai kalangan dan instansi. Tercatat, seminar ini dihadiri oleh Staf Ahli dari Komisi XIII DPR RI, perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkayang, serta jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang. Selain itu, turut hadir pula para perwakilan KUA Kecamatan, Kepala Desa Sumber Karya, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), serta para tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Seminar ini menghadirkan akademisi sekaligus pakar sejarah Islam, Prof. Dr. Erwin Mahrus, M.Ag. sebagai narasumber utama. Di hadapan para peserta yang hadir, Prof. Erwin membedah perjalanan hidup, karir, hingga warisan intelektual Syekh Ahmad Khatib Sambas yang kiprahnya diakui hingga ke level global.

Dalam paparannya, Prof. Erwin Mahrus menjelaskan bahwa Syekh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875) merupakan sosok ulama besar, sufi, pendidik, diplomat, sekaligus Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Ulama kelahiran Sambas, Kalimantan Barat ini memulai perjalanan spiritual dan intelektualnya pada usia 17 tahun dengan berlayar menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu, sebuah perjalanan yang memakan waktu minimal 6 bulan melewati lautan dengan berbagai rintangan.

“Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah, dan amal tanpa ilmu bagaikan buah tanpa akar.” – Syekh Ahmad Khatib Sambas

Salah satu kontribusi terbesar beliau adalah memadukan dua tarekat besar, yakni Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, menjadi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) pada tahun 1845. Sintesis jalan spiritual ini diakui sangat moderat dan seimbang. Kredibilitas keilmuannya mengantarkan Syekh Ahmad Khatib diangkat sebagai guru besar dan imam di Masjidil Haram, Makkah antara tahun 1850 hingga 1875.

Dari dedikasinya mengajar di pusat dunia Islam, beliau melahirkan jaringan ulama terkemuka di Nusantara. Murid-murid beliau mencakup nama-nama besar pembangun peradaban Islam di Indonesia, seperti Kiai Nawawi Banten, Kiai Kholil Bangkalan, hingga pendiri Nahdlatul Ulama, Kiai Hasyim Asy’ari.

Tidak hanya berfokus pada pendidikan tasawuf, jaringan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikembangkan murid-muridnya bertransformasi menjadi kekuatan perlawanan anti-kolonial di Nusantara. Ajaran yang menekankan zikir, keikhlasan, dan keberanian melawan kezaliman ini menginspirasi berbagai pemberontakan melawan penjajah Belanda, mulai dari perlawanan Kiai Marzuki di Banten (1888), perlawanan Guru Bangkol di Sasak (1891), hingga perlawanan pengikut Kiai Asnawi di Caringin (1926).

Seminar ini juga mengungkap sisi diplomasi Syekh Ahmad Khatib Sambas. Pada era 1850-an, beliau bersama rekan-rekannya mengirimkan surat diplomatik resmi kepada Sultan Turki Utsmani. Surat tersebut memuat permohonan dukungan perlindungan bagi umat Islam, yang membuktikan tingginya kesadaran politik global sang ulama.

Melalui karya monumentalnya, Fath al-‘Arifin, yang terus dicetak dan disebarkan di Mesir, Makkah, hingga Nusantara, warisan keilmuan Syekh Ahmad Khatib Sambas terus hidup dan memberikan kemanfaatan bagi peradaban umat.

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *