NARASIKALBAR.COM, PONTIANAK – Di bawah temaram lampu kafe yang bersanding dengan lalu-lalang mobilitas kendaraan, halaman Aqua Garden Café, Kecamatan Pontianak Timur, mendadak berubah menjadi ruang penyemangat diskusi hangat.Tepat pada Rabu, 28 Oktober 2026 malam, udara Pontianak terasa berbeda. Di saat kalender nasional memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, para pemuda di ujung timur kota khatulistiwa ini memilih cara yang substansial dengan menggelar “Mimbar Pemuda” mengusung tema besar “Pemuda Bersuara, Mengawal Masa Depan Pontianak dalam Menentukan Arah Pembangunan dan Kesejahteraan”.
Bukan di dalam gedung ber-AC mewah dengan protokoler kaku, melainkan di ruang terbuka yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi masyarakat. Spanduk besar yang terpasang sejak siang hari di pinggir jalan sukses mengundang rasa penasaran para pengendara yang melintas. “Mimbar apa ini?” tanya sebagian warga yang singgah. Dan di sinilah esensi ruang publik itu hidup menjadi wadah di mana aspirasi akar rumput tidak disaring oleh birokrasi, melainkan ditampung mentah-mentah dari kegelisahan sehari-hari.
Kegiatan kolosal ini merupakan buah dari aliansi strategis lintas organisasi kepemudaan (OKP). Mulai dari PAC Gerakan Pemuda Ansor, Karang Taruna, DPK KNPI, Fatayat NU, hingga PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Pontianak Timur, bersatu padu membuktikan bahwa gerakan pemuda hari ini tidak boleh terjebak dalam seremoni kosong.

Ketua Panitia yang juga memegang nakhoda PAC GP Ansor Kecamatan Pontianak Timur, Mustakim Lespatih membuka diskusi dengan kilas balik sejarah yang menohok kesadaran kolektif. Ia mengutip pesan abadi Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, mengenai beratnya medan juang generasi yang hidup di era kemerdekaan saat ini.
“Perjalanan dan perjuanganku melawan penjajah tentu sangat berat. Namun, perjuangan kalian akan jauh lebih sulit karena kalian harus melawan bangsa sendiri,” ujar Mustakim menggemakan kembali titah Soekarno.
Bagi Mustakim, pesan itu menjadi alarm pengingat. Meski persiapan konsep acara terbilang singkat dalam hitungan hari, keyakinan para pemuda tidak pernah surut. Terlebih ketika kehadiran Wakil Wali Kota Pontianak bersama para tokoh masyarakat menyanggupi undangan terbuka itu.
Ia menegaskan, Mimbar Pemuda bukanlah wadah untuk menanamkan kebencian terhadap Kota Pontianak. Sebaliknya, forum ini merupakan wujud cinta yang mendalam dari pemuda Pontianak Timur. Cinta yang menuntut kejujuran untuk melihat sisi positif sekaligus berani mengkritik sisi negatif dari arah pembangunan kota.
“Kami sengaja memilih ruang terbuka agar kami bisa merasakan esensi berkumpul bersama masyarakat. Gagasan-gagasan dari warga yang lewat bisa kami serap untuk disampaikan langsung kepada pemerintah kota demi keberlanjutan pembangunan dan kesejahteraan,” ungkap Mustakim.

Menanggapi gelombang aspirasi tersebut, Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan memberikan respon positif dan dukungan penuh. Di hadapan para pemuda, Bahasan menegaskan bahwa pemerintah daerah selalu membuka pintu seluas-luasnya bagi keterlibatan kaum muda dalam setiap proses pembangunan.
Bagi Bahasan, kritik yang disampaikan secara terbuka di ruang publik menjadi vitamin bagi birokrasi, asalkan dilandasi dengan etika dan akhlak yang mulia.
“Selagi positif, ya kami dukung penuh. Kami ikuti keinginan para pemuda. Diskusi di tempat terbuka seperti ini tentu berdampak besar bagi konteks pembangunan di Kota Pontianak,” ujar Bahasan.
Bahasan juga menepis anggapan bahwa pemerintah daerah menutup diri dari partisipasi pemuda. Ia justru mendorong agar pemuda tidak hanya bisa mengkritik lewat orasi di jalanan yang kadang berujung pada kericuhan, tetapi berani menghadirkan solusi konkret di lapangan.
Ia memberikan contoh nyata terkait persoalan klasik perkotaan seperti saluran air (drainase) yang tersumbat hingga memicu genangan air atau yang akrab disebut warga setempat sebagai air acap.
“Sampaikan ke kami. Kalau butuh, kami turunkan armada dan tim dari dinas terkait. Bahkan saya atau Pak Wali siap turun langsung bersama kalian untuk mengedukasi sekaligus menyemangati masyarakat,” tegas Bahasan.

Menyinggung soal dinamika aksi unjuk rasa yang kerap terjadi belakangan ini, seperti tuntutan transparansi anggaran, Bahasan berpesan agar para pemuda dan mahasiswa senantiasa mengedepankan cara-cara yang elegan. Menurutnya, kritikan yang disampaikan dengan santun, beretika, dan berlandaskan data yang kuat justru jauh lebih “mematikan” bagi pihak-pihak yang tidak transparan ketimbang tindakan anarkis yang merusak fasilitas umum.
Mimbar Pemuda malam itu tidak hanya berbicara tentang kebijakan makro pembangunan, tetapi juga membumi pada persoalan kemanusiaan di tingkat paling bawah. Kehadiran Direktur Yakorma Peduli, Moh. Tingwar, memberikan warna tersendiri dalam diskusi malam itu.
Banyak warga sempat bertanya-tanya mengenai singkatan “Yakorma” yang terpampang di baliho acara. Moh. Tingwar menjelaskan bahwa Yakorma Peduli merupakan KSO dari Yayasan Kerukunan Orang Madura yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan, dan telah mendedikasikan diri di Kota Pontianak selama kurang lebih tiga tahun terakhir.
Moh. Tingwar menyoroti persoalan krusial yang kerap luput dari perhatian, seperti akses layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Menurutnya, tantangan kesehatan hari ini bukan sekadar ketersediaan rumah sakit atau puskesmas, melainkan bagaimana masyarakat bawah bisa menjangkaunya dengan cepat dan layak.
“Berdasarkan pengalaman kami di lapangan, salah satu kebutuhan paling mendesak adalah kesulitan mendapatkan transportasi ketika warga harus berobat, kontrol rutin, atau dirujuk ke rumah sakit. Kondisi ini sangat berat bagi keluarga prasejahtera atau mereka yang memiliki keterbatasan,” ungkap Moh. Tingwar.
Sebagai bentuk jawaban atas kegelisahan tersebut, Yakorma Peduli hadir dengan menyediakan layanan ambulan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan, di samping aksi sosial rutin lainnya untuk membantu fakir miskin dan anak-anak yatim. Moh. Tingwar juga mengapresiasi inisiatif pemuda Pontianak Timur dan berharap kolaborasi lintas elemen ini dapat memperluas jangkauan aksi kemanusiaan di Kota Khatulistiwa.
Moh. Tingwar juga mengapresiasi ruang diskusi ini, ia menilai bahwa kegiatan itu telah memecahkan mitos bahwa pemuda hari ini apatis terhadap politik dan pembangunan daerah. Nyatanya, dari sebuah kafe sederhana di Pontianak Timur, mereka juga mampu mengirimkan pesan kuat, bahwa masa depan Kota Pontianak tidak ditentukan di balik meja birokrasi semata, melainkan dirajut bersama dari kesadaran kritis, kolaborasi lintas sektor, dan kepedulian sosial yang tinggi.
Sumpah Pemuda ke-98 di Pontianak bukan lagi sekadar teks sejarah di buku pelajaran, melainkan sebuah denyut hidup yang berdetak kencang di dada setiap pemuda yang bersuara untuk mengawal kesejahteraan kotanya.














