banner 728x250
Berita  

HISAABA Kalbar Minta Pemkot Kolaborasikan Kegiatan Peringatan Hari Santri dengan Agenda Hari Jadi Pontianak

NARASIKALBAR.COM, PONTIANAK – Himpunan Santri dan Alumni YP Babussalam (HISAABA) Kalimantan Barat mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak untuk mengkolaborasikan rangkaian agenda Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap 22 Oktober dengan peringatan Hari Jadi Kota Pontianak pada 23 Oktober.

Ketua HISAABA Kalbar, H. Munaji, menyampaikan, penyelarasan dua momen besar ini akan membuat pelaksanaan kegiatan menjadi lebih efisien, khidmat, dan bermakna bagi masyarakat Kota Pontianak.

Menurut Munaji, sejarah Hari Santri Nasional tak lepas dari peran pengasuh Pondok Pesantren Babussalam di Banjarejo, Malang, Jawa Timur, yakni KH Thoriq Darwis (Gus Thoriq) yang merupakan inisiator awal ide peringatan HSN sesuai kontrak Politik pada 27 Juni 2014 KH Thoriq bin Ziyad dengan Presiden Joko Widodo yang kemudian direalisasikan janji itu dengan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional.

Penetapan Haro Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober ini, untuk mengenang Resolusi Jihad yang diserukan oleh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945 bersama santri dan ulama.

“Kami berharap Pemkot Pontianak dapat berkolaborasi dalam menata agenda kegiatan ini. Setiap tanggal 22 Oktober jelang jari jadi Pontianak, Pemkot biasanya melaksanakan ziarah ke Makam Kesultanan Batu Layang. Momen ini sangat pas jika diselaraskan langsung dengan peringatan Hari Santri Nasional,” ujar Munaji yang juga sebagai Anggota DPRD Kota Pontianak ini, saat acara refleksi hari Santri di Pontianak, Jumat, 23 Oktober 2026 malam.

HISAABA Kalbar juga memberikan usulan konkret terkait lokasi pelaksanaan peringatan. Munaji menyarankan agar Apel Hari Santri Nasional dapat dipusatkan di kawasan Tugu Khatulistiwa, yang lokasinya berdekatan dengan Makam Kesultanan Batu Layang.

“Dengan begitu, setelah pelaksanaan apel peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober di Tugu Khatulistiwa, rombongan bisa langsung melanjutkan agenda ziarah ke Makam Batu Layang. Kemudian pada 23 Oktober, rangkaian dilanjutkan dengan peringatan Hari Jadi Kota Pontianak. Solusi ini sangat efisien dan kami berharap agenda ini bisa masuk dalam kalender tetap Pemkot Pontianak,” tegas Munaji.

Senada dengan hal tersebut, Haji Ferdin menyoroti pentingnya makna Hari Santri bagi generasi muda Islam saat ini. Ia menegaskan bahwa para santri harus menjadi garda terdepan dalam melanjutkan cita-cita perjuangan para ulama dan pahlawan terdahulu.

“Kita patut bangga karena Hari Santri ini diprakarsai oleh Gus Thoriq. Melalui Hari Santri, kita mengenang kembali seluruh perjuangan para guru dan sesepuh kita. Sebelum Indonesia merdeka, ulama dan santri telah berjuang keras merebut kemerdekaan serta benteng pertahanan agar bangsa ini tidak mudah tergoyahkan oleh pengaruh budaya barat,” tegas pengurus HISAABA Kalbar ini.

Ia menambahkan, landasan utama peringatan Hari Santri adalah untuk menjaga nilai-nilai perjuangan tersebut dengan mengisinya lewat kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Haji Muhammad berharap ke depan kemeriahan peringatan Hari Santri di Kota Pontianak dapat bergelora seperti di daerah tetangga.

“Kami ingin ke depan Hari Santri di Pontianak bisa semarak seperti di Kabupaten Kubu Raya, di mana hampir seluruh pesantren melaksanakan upacara dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah. Jika ke depan belum ada lembaga besar yang mempeloporinya secara masif, maka kita yang harus membentuk dan memulainya,” ungkap Haji Muhammad.

Sekretaris Umum HISAABA Kalbar, Ridwan, menegaskan komitmen para santri dan alumni Ponpes Babussalam di Kalimantan Barat. Sebagai bagian dari sejarah lahirnya HSN, alumni Babussalam merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi motor penggerak sekaligus melanjutkan perjuangan pengasuh pondok pesantren dan ulama serta santri.

“Santri dan alumni Ponpes Babussalam harus menjadi pelopor dalam pelaksanaan Hari Santri Nasional. Mengingat inisiator HSN adalah Gus Thoriq, yang jejak sejarahnya tertuang dalam penandatanganan kesepakatan bersama Presiden Joko Widodo kala itu. Momen historis ini harus terus kita jaga dan gaungkan di Kalimantan Barat,” pungkas Ridwan.

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *