NARASIKALBAR.COM, PONTIANAK — Pagi itu, sang surya baru saja merangkak naik, memancarkan kehangatan ke atas riuhnya Kota Pontianak yang dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa. Namun, belum sempat terik matahari menyengat, Jalan Diponegoro, Pontianak, telah lebih dulu bergemuruh. Ribuan warga tumpah ruah, memenuhi jalanan hingga larut dalam lautan warna-warni busana tradisional khas melayu.
Bukan sekadar keramaian biasa. Hari itu, denyut nadi kebudayaan terpancar, ribuan warga ini berkumpul untuk mengikuti Pawai Melayu Borneo sebagai penanda dibukanya Festival Creative 2026 dalam rangka menyemarakkan hari jadi ke-255 Kota Pontianak.
Udara pagi itu, Minggu, 25 Oktober 2026, seolah bergetar tatkala tabuhan kompang dan gendang berpadu dengan riuh rendah suara penonton. Di tengah barisan, aroma khas minyak wangi tradisional berpadu dengan wangi penganan pasar yang dijajakan pedagang kaki lima di pinggir jalan. Suasana kian hidup tatkala para peserta pawai, mulai dari anak-anak hingga kaum tetua—melangkah anggun mengenakan busana khas Melayu lengkap dengan teluk belanga, sampin, serta hiasan kepala songket yang berkilau ditimpa cahaya pagi.
Ketua Panitia acara sekaligus Anggota DPRD Kota Pontianak, Anggi Febri Ardika menyampaikan, pawai ini bukan sekadar tontonan visual yang memanjakan mata. Namun, menjadi ruang temu, sebuah perayaan identitas di mana akar sejarah serumpun di tanah Borneo kembali dirajut erat, lewat budaya mampu menyatukan keberagaman.
“Tentunya takjub dan bersyukur karena melihat tingginya partisipasi masyarakat. Ini sangat luar biasa sekali, apalagi warga menggunakan tradisi baju adat Melayu, yang mana juga kebetulan kita juga merayakan hari jadi Kota Pontianak,” ungkap Anggi.
Anggi mengaku bersama panitia tak menduga, antusias warga bisa setinggi ini. Bahkan, diprediksi jumlah peserta yang ikut pawai Melayu Borneo ini mencapai 6.000 orang. “Ini membuktikan, bahwa budaya mampu menyatukan keberagaman di Kota Pontianak,” kata Anggi yang juga sebagai ketua Buda’ Melayu Pontianak ini.
Anggi mengungkapkan keberhasilan ini tentunya atas hasil jeri payah, kolaborasi dan sinergitas antar panitia dan berbagai pihak serta elemen masyarakat adat.
Anggi menyebut, bahwa kegiatan Pawai Melayu Borneo ini, dibantu dari Majelis Adat, Kesultanan, Panglima, Komando, dan hingga ormas Melayu se-Kalimantan Barat.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengatakan kegiatan budaya seperti Pontianak Creative Festival dan Pawai Melayu Borneo menjadi bagian penting dalam memeriahkan Hari Jadi Kota Pontianak sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan kreativitas dan kecintaan terhadap budaya.
Kegiatan itu berlangsung 25-31 Oktober 2026 di Jalan Diponegoro. Penyelenggaraan kegiatan tersebut mampu memperkuat kebersamaan antara pemerintah, komunitas dan masyarakat.
Sehingga momentum Hari Jadi ke-255,harus menjadi semangat untuk bersama-sama menjaga Pontianak tetap tangguh dan bersahabat.
“Doakan kami agar Pemerintah Kota Pontianak terus bisa hadir dan memberikan solusi terbaik terhadap kepentingan dan permasalahan masyarakat,” ujarnya.
Bahasan pun mengapresiasi penyelenggaraan Pontianak Creative Festival dan Pawai Melayu Borneo yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang kreativitas sekaligus mempererat persaudaraan masyarakat di Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak.
“Mudah-mudahan memberikan dampak terhadap persaudaraan yang terus terjalin di Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak,” ujarnya.
Sementara itu, Sultan Pontianak Syarif Melvin menyambut antusias kehadiran peserta Pawai Melayu Borneo yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Barat, di antaranya Sintang, Sambas dan Singkawang. Menurutnya, kehadiran masyarakat dari berbagai kabupaten dan kota menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Melayu di Kalimantan Barat.
“Ini yang membuat kita semangat. Berarti ada kekompakan untuk kita semua, Melayu yang ada di Kalimantan Barat,” katanya.
Sultan Melvin juga mengajak masyarakat terus menjaga budaya Melayu sebagai warisan yang memiliki nilai tinggi dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Kegiatan Pawai Melayu Borneo yang bertepatan dengan momentum Hari Jadi Kota Pontianak memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkumpul dan menunjukkan identitas budaya dalam suasana penuh kegembiraan.
Menurutnya, kolaborasi yang terbangun dalam kegiatan tersebut juga patut diapresiasi. Pontianak Creative Festival bersama pemerintah daerah dan berbagai organisasi masyarakat mampu mempertemukan unsur Melayu maupun komunitas lintas etnis.
“Kita sudah berkolaborasi dengan pemerintah kota, pemerintah daerah maupun organisasi masyarakat yang ada di Kalimantan Barat, baik Melayu maupun lintas etnis di Kota Pontianak dan sekitarnya,” jelasnya.
Sultan Melvin berharap semangat tersebut terus dipertahankan sehingga budaya tidak hanya tampil dalam kegiatan seremonial, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat dan menjadi pengikat persaudaraan.








