banner 728x250

Tim PKM UPB Latih Petani Sungai Itik Olah Limbah Pertanian Jadi Co-Compost Biochar dan Pupuk Biosilika

banner 468x60

NARASIKALBAR.COM – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Panca Bhakti (UPB) menghadirkan inovasi ramah lingkungan untuk mendukung pertanian berkelanjutan melalui pelatihan teknologi co-compost biochar dan pupuk biosilika di Desa Sungai Itik, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Kegiatan ini melibatkan Kelompok Tani Abdi Tani, yang mendapatkan pendampingan langsung dalam mengolah limbah pertanian menjadi pembenah tanah dan pupuk organik bernilai tinggi.

banner 1024x1500

Melalui pelatihan ini, para petani diperkenalkan pada dua teknologi sederhana namun efektif, yaitu co-compost biochar dan pupuk biosilika.

Ketua Tim PKM, Ida Ayu Suci, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa kedua teknologi tersebut dirancang untuk membantu petani mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis sekaligus memanfaatkan bahan lokal yang kerap dianggap limbah.

“Co-compost biochar dibuat dari limbah sekam padi dan eceng gondok, sedangkan pupuk biosilika diolah dari limbah sekam padi. Keduanya tersedia melimpah, mudah dibuat, murah, dan memiliki manfaat besar bagi perbaikan tanah serta peningkatan hasil panen padi,” kata Ida Ayu.

Lebih lanjut Ketua Tim PKM Ida Ayu Suci, S.Pd., M.Si menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan oleh tim gabungan dosen UPB dan Politeknik Negeri Pontianak (POLNEP), dengan anggota Muliani, S.P., M.Si. (POLNEP) dan Hardi Dominikus Bancin, S.P., M.P. (UPB), serta melibatkan sejumlah mahasiswa UPB.

Program PKM ini merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui pendanaan tahun 2025.

Dalam pelatihan tersebut, Ketua PKM Ida Ayu Suci bersama anggota tim Muliani dan Hardi Dominikus Bancin melatih petani membuat kompos dari eceng gondok, sekam, pupuk kandang, dan dedak yang ditambah larutan gula merah dan EM4 sebagai aktivator. Bahan-bahan dicampur merata, ditutup terpal untuk fermentasi, dan diaduk setiap tiga hari hingga matang dalam 14 hari.

Kompos yang telah matang kemudian dicampur dengan biochar hasil pirolisis perbandingan 1:1 hingga membentuk co-compost biochar. Bahan ini diaplikasikan sebelum tanam dengan cara ditebarkan di lahan sawah dan diolah bersama tanah, serta setelah tanam sebagai pupuk susulan di sekitar perakaran padi.

Menurut Ida Ayu Suci, co-compost biochar bermanfaat memperbaiki struktur dan kesuburan tanah sekaligus menekan oksidasi pirit di lahan sulfat masam yang menjadi penyebab tanah sangat masam dan miskin hara.

Dengan bahan organik dan karbon aktif yang tinggi, co-compost biochar membantu menstabilkan pH tanah serta menciptakan kondisi lebih baik bagi pertumbuhan padi.

Sementara itu, anggota PKM Muliani menjelaskan bahwa pupuk biosilika dibuat dengan membakar sekam padi hingga menjadi abu, kemudian diekstrak menggunakan larutan NaOH untuk menghasilkan larutan biosilika.

Sedangkan untuk Silika berperan memperkuat dinding sel tanaman, meningkatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta memperbaiki sifat fisik tanah.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sungai Itik, Yupinaristi Indriani, berharap kegiatan pelatihan ini dapat memberikan dampak nyata bagi petani.

“Kami harap melalui kegiatan ini, petani mampu mengolah limbah pertanian menjadi pupuk bernilai guna dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis. Dengan penerapan co-compost biochar dan pupuk biosilika, semoga hasil panen padi meningkat dan kondisi tanah menjadi lebih subur serta tidak terlalu masam,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Abdi Tani, Bawadi Ahmad Nur, mengaku pelatihan ini sangat bermanfaat bagi petani, melalui kegiatan ini menambah wawasan, bahwa eceng gondok dan sekam padi yang selama ini dianggap limbah ternyata bisa diolah menjadi pembenah tanah dan pupuk organik bernilai tinggi.

“Dengan keterampilan membuat co-compost biochar dan pupuk biosilika, kami dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya semakin mahal,” ujarnya.

Kegiatan ini disambut antusias oleh para petani. Mereka terlibat langsung dalam setiap tahap pelatihan, mulai dari proses pencacahan eceng gondok, pengadukan bahan fermentasi, hingga pembakaran sekam padi untuk menghasilkan abu sekam.

Antusiasme peserta terlihat dari semangat mereka mengikuti setiap sesi, terlebih dengan pendampingan mahasiswa yang turut memberikan bimbingan teknis di lapangan.

Melalui kegiatan ini, petani di Desa Sungai Itik diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya pengelolaan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah.

Co-compost biochar dan pupuk biosilika menjadi solusi nyata untuk melengkapi kebutuhan pupuk organik sekaligus mendukung program pemerintah dalam mendorong pertanian organik dan berkelanjutan.

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *