banner 728x250

Mengapa Banyak Sarjana Indonesia, Sulit Mendapat Pekerjaan?

NARASIKALBAR.COM — Di Indonesia, pendidikan sering dianggap jalan utama untuk mengubah nasib. Banyak orang tua rela berutang demi menyekolahkan anak sampai kuliah, dengan harapan hidup mereka nanti akan lebih baik. Tapi kenyataannya, hari ini kita melihat banyak sarjana yang justru menganggur atau bekerja tidak sesuai dengan ijazahnya. Ini menunjukkan ada masalah serius dalam sistem pendidikan kita.

Di Indonesia, kuliah masih dianggap sebagai simbol kesuksesan. Anak yang masuk universitas dipuji, sementara yang memilih sekolah kejuruan sering dipandang sebelah mata. Padahal, dunia kerja tidak hanya butuh orang yang pandai teori, tapi juga butuh tukang, teknisi, dan pekerja terampil. Akibat cara pandang ini, kampus penuh mahasiswa, tetapi pabrik dan bengkel kekurangan tenaga ahli. Banyak lulusan sarjana akhirnya bekerja serabutan karena keahliannya tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Bandingkan dengan Jerman. Di sana, tidak semua anak harus kuliah. Banyak yang memilih sekolah kejuruan dan justru hidupnya mapan. Sejak sekolah, mereka sudah belajar sambil bekerja di perusahaan. Jadi ketika lulus, mereka sudah punya pengalaman dan langsung bisa kerja. Pekerja teknis di Jerman dihormati, gajinya layak, dan masa depannya jelas. Tidak ada anggapan bahwa yang tidak kuliah itu gagal.

Di Indonesia, sekolah kejuruan memang ada, tapi sering setengah-setengah. Banyak SMK tidak punya alat praktik yang memadai, gurunya kurang, dan lulusannya sulit dapat kerja. Dunia usaha jarang dilibatkan secara serius. Lebih parah lagi, orang tua masih malu jika anaknya tidak kuliah. Akhirnya, anak dipaksa masuk universitas meski tidak siap dan tidak jelas mau kerja apa.

Cara belajar di sekolah dan kampus juga jadi masalah. Di Indonesia, murid sering hanya disuruh menghafal. Guru dan dosen dianggap selalu benar, murid tidak boleh banyak bertanya. Akibatnya, banyak lulusan yang takut berpendapat dan bingung ketika harus menyelesaikan masalah sendiri. Di Jerman, murid justru dilatih untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari solusi. Salah itu wajar, yang penting mau belajar dan memperbaiki diri.

Hubungan antara sekolah dan dunia kerja di Indonesia juga lemah. Banyak mahasiswa magang hanya datang, absen, lalu pulang. Tidak benar-benar belajar kerja. Setelah lulus, mereka kaget karena dunia kerja ternyata jauh berbeda dengan yang dipelajari. Di Jerman, sekolah dan perusahaan bekerja bersama. Perusahaan ikut mendidik murid, jadi lulusan langsung siap kerja.

Masalah lainnya adalah biaya dan akses pendidikan. Sekolah dan kampus bagus kebanyakan ada di kota besar dan mahal. Anak-anak dari desa dan keluarga miskin sering tertinggal. Pendidikan yang seharusnya jadi jalan keluar dari kemiskinan, malah sering membuat jurang semakin lebar. Di Jerman, negara hadir lebih kuat. Pendidikan dibuat terjangkau agar semua anak punya kesempatan yang sama.

Pendidikan juga berpengaruh pada cara orang berpikir soal negara dan pemimpin. Di Indonesia, sekolah sering mengajarkan untuk patuh dan diam. Kritik dianggap melawan. Di Jerman, sekolah justru mengajarkan warga agar berani bertanya dan mengawasi pemerintah. Dari situlah lahir masyarakat yang sadar haknya.

Pelajaran pentingnya jelas. Masalah pendidikan Indonesia bukan karena rakyatnya bodoh atau malas, tapi karena sistemnya keliru. Kita terlalu mengejar gelar, lupa pada keahlian. Selama pendidikan masih seperti ini, kita akan terus melihat lulusan banyak, tapi kerjaan sedikit.

Kalau Indonesia mau maju, pendidikan harus berubah. Sekolah harus mengajarkan keterampilan yang benar-benar dipakai di dunia kerja, menghargai semua jenis pekerjaan, dan membuka jalan yang adil bagi anak orang kecil. Kalau tidak, pendidikan hanya akan jadi mimpi mahal yang sulit terwujud bagi rakyat biasa.

Penulis: Fahrurrosi

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *