NARASIKALBAR.COM, PONTIANAK – Terik matahari siang di Kota Pontianak tak menyurutkan langkah Jumiwiyanto, atau yang akrab disapa Pakde (49). Di saat sebagian orang memilih untuk beristirahat di rumah sembari menunggu waktu berbuka, Pak Juni justru sudah mulai menata dagangannya sejak jam 12 siang.
Bagi Pak Juni, Ramadhan bukan alasan untuk berpangku tangan. Meski diakuinya, berjualan di bulan suci ini membawa tantangan tersendiri, terutama dari sisi pendapatan.
Melawan Sepi dengan Berdikari
Tiga tahun lalu, Pak Juni biasanya memilih untuk meliburkan diri selama bulan puasa. Namun, kondisi keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga mengubah keputusannya.
“Kalau di rumah itu bengong. Ya sudah, sekarang kita jualan lah. Kalau nggak turun (jualan), kata orang nggak dapat duit,” ujarnya dengan nada rendah namun penuh keyakinan, Selasa, 24 Februari 2026.
Berjualan es buah sejak akhir 2015, Pak Juni merasakan betul pasang surutnya pendapatan. Di bulan Ramadhan ini, omzetnya menurun sekitar 30 hingga 40 persen dibanding hari biasa. Jika biasanya ia bisa berjualan hingga pukul 10 malam, kini ia membatasi waktu hingga setengah tujuh malam agar bisa berbuka bersama keluarga.
Matematika Syukur
Secara hitung-hitungan kertas, margin keuntungan Pak Juni terbilang sangat tipis. Untuk modal harian, ia harus merogoh kocek sekitar Rp400.000.
“Prinsipnya, kalau penghasilan nggak di atas 500 ribu, ya belum nutup. Tapi kalau cuma dapat sisa 100 ribu, ya disyukuri saja. Dicukup-cukupkan,” ungkapnya.
Beban di pundak Pak Juni memang tidak ringan. Ia memiliki empat orang anak yang harus dihidupi. Tiga di antaranya masih menempuh pendidikan: satu di pesantren (mondok) di kawasan Habib Hasan Parit Masigi Sungai Ambawang Kubu Raya, satu di bangku SMA, dan si bungsu di Sekolah Dasar (SD). Beruntung, sang istri turut membantu mencari nafkah sebagai karyawan di sebuah usaha minimarket untuk menopang kebutuhan rumah tangga.
Tangan di Atas Meski Terbatas
Namun, ada satu hal yang unik dari sosok pria berdarah Jawa kelahiran Pontianak ini. Di tengah keterbatasan dan pendapatan yang tak menentu, Pak Juni tak pernah absen untuk bersedekah. Baginya, ada hak orang lain dalam setiap tetes keringatnya.
Bahkan, setiap hari Jumat, ia memiliki rutinitas khusus yakni menjamu nenek-nenek yang melintas di depan tempatnya berjualan. Dari yang awalnya empat orang, kini tersisa dua orang yang masih sering singgah.
“Kita sudah diajarkan, di bawah kita itu masih ada yang lebih susah. Jadi bagus kita memberi sedekah, baik itu makanan atau minuman,” tuturnya bijak.
Yakin pada Sang Pengatur Rezeki
Saat ditanya apa yang membuatnya tetap semangat meski harus berpuasa sambil bekerja di bawah terik matahari, Pak Juni hanya tersenyum. Baginya, kunci menjalani hidup di tengah keterbatasan ekonomi adalah tidak memelihara rasa takut akan hari esok.
“Kalau nama kita dagang, nggak usah takut. Biar kita dapat kecil, yang penting disyukuri. Rezeki itu sudah ada yang mengatur.”
Di balik gerobak sederhananya, Pak Juni memberikan pelajaran berharga bagi siapa saja yang lewat, bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tapi tentang bagaimana tetap bergerak, memberi, dan tetap merasa cukup dalam balutan rasa syukur yang tulus ditengah kondisi apapun.
















