PONTIANAK – Penertiban ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan M Isja kawasan Universitas Tanjungpura Pontianak hampir ricuh. Belum adanya tempat relokasi bagi ratusan pedagang ini menjadi penyebab mediasi berbuntut panjang hingga membuat suasana memanas.
Petugas dari Satpol PP Pontianak dan TNI, Polri Kota Pontianak melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL) untuk mempermudah para pedagang memindahkan gerobak ataupun peralatan mereka berjualan.
Kasatpol PP Kota Pontianak, Sudiantoro mengungkapkan, penertiban ini dilaksanakan atas permintaan dari pihak kampus Untan kepada Pemerintah Kota Pontianak beberapa waktu lalu yang bertujuan untuk untuk melakukan penataan di kawasan itu.
“Pihak Untan datang ke Pemkot meminta pendapat, karena Untan akan menata kawasan pengurusn tinggi lebih baik baik, minta ke Pemkot untuk penertiban PKL, kami kasi saran untuk merelokasi PKL persegmen tidak langsung ditiadakan, karena kami ada juga membina UMKM,” ujarnya.
Saat penertiban dilakukan, sempat ada penolakan dari sebagian kecil pedagang. Pedagang pun meminta ruang diskusi untuk membahas lebih lanjut terkait tempat untuk berjualan.
Pasalnya untuk di sepanjang jalan di Jalan Daya Nasional hanya tersedia puluhan tempat. Sementara pedagang yang harus direlokasi melebihi dua ratus pedagang.
“Untan belum menyediakan tempat, kami disarankan agar tertata dengan baik, diatur parkir dan lalu lintas, karena di jalan M Isja ini harus di kosongkan, karena ada penataan,” katanya.
Sudiantoro menerangkan, sebagian besar pedagang sudah menerima relokasi itu. Namun ada sebagian kecil pedagang yang perlu dilakukan diskusi mendalam terkait tempat untuk mereka berjualan.
Mengingat jumlah pedagang mencapai ratusan, sementara lokasi untuk relokasi pedagang masih belum tersedia. Maka perlu dilakukan diskusi lebih lanjut.
“Sebagian besar pedagang menerima. Namun ada sebagian kecil pedagang yang harus didalami,” katanya.

















