NARASIKALBAR.COM, PONTIANAK – Sungai Kapuas, Bagi sebagian orang menjadi jalur urat nadi transportasi. Namun bagi warga di Pontianak Timur, aliran sungai terpanjang di Indonesia ini lebih dari sekadar air yang mengalir. Ia menjadi ladang tanpa tanah yang menjanjikan kemakmuran. Salah satunya dengan menjadikan sungai kapuas sebagai tempat budidaya ikan.
Siang itu, Rabu, 7 Januari 2026, di bawah terik matahari riak tenang Sungai Kapuas, Hanafi terlihat sibuk memeriksa jaring-jaring apung miliknya. Pria yang tergabung dalam Kelompok Tani Kapuas Makmur Sejahtera ini merupakan satu dari sekian banyak warga Kelurahan Banjar Serasan Kecamatan Pontianak Timur Kota Pontianak Kalimantan Barat yang menggantungkan hidup pada kemurahan sungai terpanjang di Indonesia tersebut melalui budidaya ikan nila keramba sejak 13 tahun lalu.
Bagi Hanafi, Sungai Kapuas bukan hanya sekadar jalur transportasi, melainkan ladang produktif yang tidak memerlukan sewa lahan. Itulah alasan dipilihnya Sungai Kapuas sebagai tempat budidaya nila.
“Kami pilih di sini (sungai kapuas) karena lokasinya tidak perlu sewa, tidak perlu tanah. Sangat memudahkan,” ujarnya sembari memandang deretan kotak keramba miliknya.
Hanafi mengakui, Budidaya ikan nila di keramba sungai Kapuas memiliki dinamika tersendiri. Ada kalanya Hanafi merasa prosesnya begitu mudah, namun ada saatnya faktor alam menjadi ujian berat. Masalah utama yang sering dihadapi adalah kualitas air yang fluktuatif, yang tak jarang menyebabkan kematian massal pada ikan-ikannya.
“Caranya kadang mudah, kadang susah. Yang susahnya itu kalau faktor air lagi buruk, ikan banyak mati. Tapi kalau sudah melewati masa kritis itu, hasilnya lumayan sekali,” ungkap Hanafi yang telah menekuni bidang ini sejak tahun 2012.
Tidak tanggung-tanggung, saat ini Hanafi mengelola sekitar 40.000 bibit ikan nila yang tersebar di 27 kotak keramba. Hanafi menerapkan sistem rotasi agar tetap mengepul setiap bulan. Dari total kotak yang tersedia, setidaknya sembilan kotak harus dipanen setiap bulannya untuk memenuhi permintaan pasar.
Untuk menghasilkan ikan yang berkualitas tinggi, Hanafi sangat selektif dalam urusan pakan dan bibit. Dan memerlukan waktu pemeliharaan sekitar 3 bulan hingga siap konsumsi. Dalam sehari, Hanafi memberi makan ikannya sebanyak empat kali dengan total kebutuhan pakan mencapai 60 kilogram.
“Kualitas pakan harus dijaga. Ada pakan harga standar, ada yang tinggi. Saya pilih yang proteinnya tinggi karena pengaruhnya besar ke bobot ikan. Ikan jadi lebih berat dan padat,” ungkap Hanafi.
Dipilihnya ikan nila dalam budidaya ini, bukan tanpa alasan bagi Hanafi. Dibandingkan jenis ikan lain seperti emas yang pasarannya terbatas, atau ikan patin yang masa panennya mencapai 7 bulan, ikan nila jauh lebih ekonomis dan diminati masyarakat.
Saat ini, Hanafi melepas ikan hasil budidayanya ke tangan pengepul atau produsen dengan harga Rp35.000 per kilogram. Harga ini terbilang kompetitif, mengingat di tingkat pasar atau pedagang lain, harga ikan nila bisa mencapai Rp37.000 hingga Rp39.000 per kilogram.
Budidaya keramba di Sungai Kapuas ini bukan hanya soal ekonomi pribadi, melainkan potret ketahanan pangan lokal. Berkat bantuan kawasan dari pemerintah dan ketekunan para petani seperti Hanafi, Sungai Kapuas terus mengalirkan rezeki bagi warga di tepiannya.













