banner 728x250

Holil, Sang Pejuang Jalan yang Menaklukkan Ilmu

banner 468x60

Oleh: Mustakim Lespatih

NARASIKALNAR.COM – Di balik hiruk pikuk jalanan Kota Pontianak, ada sosok sederhana yang setiap hari mengayuh semangat bersama deru motor ojek daringnya. Namanya Holil — seorang pengemudi ojek, sekaligus pejuang ilmu yang baru saja menuntaskan studi Magister di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura (Untan).

banner 1024x1500

Bagi banyak orang, menyelesaikan kuliah pascasarjana adalah hal biasa. Namun bagi Holil, setiap langkah menuju toga adalah perjuangan panjang penuh keringat, keyakinan, dan doa. Setelah menamatkan pendidikan S1 di Universitan tanjungpura melalui beasiswa Bidikmisi, ia tak berhenti di sana.
Dengan tekad yang sama, ia melanjutkan ke jenjang magister — kali ini tanpa beasiswa, hanya berbekal semangat dan kerja keras.

Tanpa pekerjaan tetap, Holil memilih menjemput rezeki dari jalanan. Siang malam ia bekerja sebagai pengemudi ojek online, mengantarkan penumpang, paket, bahkan makanan, demi membiayai kuliah dan kebutuhan keluarganya.

“Selama mencari ilmu dengan niat yang tulus, pasti akan selalu ada jalan,” ujarnya suatu kali, dengan senyum lelah yang penuh arti.

Saya mengenal Holil bukan sekadar sebagai kawan, tapi sebagai saudara seperjuangan. Kami punya kesamaan nasib — sama-sama tumbuh tanpa sosok ayah. Hidup menempah kami untuk kuat lebih cepat. Tahun 2024 menjadi tahun penting dalam hidup kami: kami berdua memutuskan untuk membangun keluarga.
Kini, di tahun 2025, takdir menghadiahkan kebahagiaan dengan cara yang berbeda: saya dikaruniai seorang anak, sedangkan Holil dianugerahi satu gelar baru, Magister, hasil ketekunan dan pengorbanannya di dunia pendidikan.

Saya masih ingat, Holil menikah ketika baru memasuki semester tiga. Keputusan yang berani, bahkan bisa dibilang nekat, karena kondisi ekonominya belum stabil. Tapi justru di sanalah letak keyakinannya — bahwa hidup tak menunggu segalanya sempurna, baru berjalan. Hidup harus diperjuangkan sambil melangkah.

Kami pernah hidup bersama lebih dari setahun di sekretariat organisasi. Di ruang kecil penuh buku, spanduk, dan sisa kopi dingin, kami menulis banyak cerita — tentang perjuangan mahasiswa, tentang masa depan, dan tentang bagaimana bertahan di tengah kerasnya hidup. Kami belajar bukan hanya dari kampus, tapi dari kehidupan itu sendiri: tentang sabar, syukur, dan arti teman seperjuangan.

Dan hari itu akhirnya tiba. Hari istimewa ketika toga resmi dikenakan di kepalanya. Saya menyaksikan bagaimana senyum ibunya merekah di antara haru, dan saudara serta istrinya ikut bangga di sisi panggung wisuda. Semua lelah seolah terbayar lunas oleh momen itu. Di hadapan kami, bukan sekadar seorang wisudawan, tapi simbol nyata dari perjuangan yang tidak kenal menyerah.

Kini, setiap langkah Holil adalah bukti bahwa perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil. Dari jalanan ia belajar arti sabar, dari kampus ia menimba ilmu, dan dari hidup ia menemukan makna pengabdian.

Holil bukan hanya menaklukkan jalanan, tapi juga menaklukkan dirinya sendiri. Ia menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi tinggi. Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan dari mana kita berangkat, tapi seberapa kuat kita bertahan dan berjuang di tengah perjalanan.


Catatan Penulis:
Kisah ini bukan hanya tentang Holil, tapi tentang setiap anak muda yang berani bermimpi di tengah keterbatasan. Tentang keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari segala kesempitan, dan bahwa Tuhan selalu memberi jalan bagi mereka yang tak berhenti melangkah.

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *