NARASIKALBAR.COM, KUBU RAYA – Di balik keindahan kawasan ekowisata mangrove dan potensi perikanan yang membentang di pesisir Kabupaten Kubu Raya, tersimpan sebuah ironi panjang yang dirasakan oleh warga Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar. Di usia desa yang telah berjalan belasan tahun, impian mendasar akan hadirnya sebuah fasilitas pendidikan formal tingkat dasar dan menengah di dalam kampung halaman sendiri, hingga kini masih hanya menjadi angan-angan.
Kepala Desa Medan Mas, Dharma Wira, dengan nada prihatin mengungkapkan, sejak desa tersebut berdiri hingga memasuki tahun ke-14 ini, belum ada satu pun gedung sekolah dasar yang berdiri di wilayah mereka.
“Memang benar bahwa Desa Medan Mas ini sampai pada waktu ini kami belum mempunyai sarana pendidikan. Jadi, anak-anak yang berada di desa Medan Mas harus menempuh pendidikannya di desa tetangga” ujar Wira saat ditemui pada 26 Juli 2026.
Ketiadaan gedung sekolah ini memaksa ratusan anak usia sekolah di Desa Medan Mas untuk setiap hari menempuh perjalanan cukup jauh tiga sampai lima kilometer demi mengenyam bangku pendidikan. Berdasarkan data koordinasi pihak desa, tercatat ada sekitar 185 anak usia sekolah dasar yang merupakan penduduk asli Desa Medan Mas. Angka tersebut dinilai sangat dinamis dan terus bergerak seiring pertumbuhan penduduk.
Meski fasilitas fisik berupa gedung sekolah belum tersedia, Wira memastikan bahwa dari segi sumber daya manusia (SDM) dan tenaga pengajar, wilayahnya sebenarnya memiliki potensi yang cukup memadai. Banyak pemuda-pemudi lokal lulusan perguruan tinggi yang siap mengabdikan diri menjadi pendidik, seandainya fasilitas penunjang tersebut telah dibangun.
“Kalau untuk tenaga-tenaga pengajar, banyak anak-anak Medan Mas yang sarjana. SDM pendidikan kita cukup lumayan. Hanya saja, fasilitas fisiknya yang memang belum ada. Kalau tenaga pengajar, kami siap,” tegasnya.
Selama 14 tahun terakhir, aktivitas belajar mengajar bagi anak-anak Desa Medan Mas bergantung sepenuhnya pada sekolah-sekolah di desa tetangga. Untuk bisa sampai ke ruang kelas, para siswa harus menempuh jarak yang tidak dekat berkisar antara tiga hingga lima dari permukiman warga.
Tidak hanya tingkat sekolah dasar, keterbatasan ini juga merembet ke jenjang pendidikan lainnya. Akses menuju sekolah di luar desa tersebut memaksa para pelajar harus mengandalkan kendaraan sendiri atau diantar, atau menumpang kendaraan roda milik warga kampung jika kondisi orang tua tidak memungkinkan untuk mengantar.
Perjuangan menuntut ilmu ini tentu menyimpan risiko tersendiri bagi anak-anak usia dini.
Kades Dharma Wira mengaku bahwa pihak desa tidak tinggal diam. Upaya komunikasi dan koordinasi dengan instansi terkait, termasuk Pemerintah Kecamatan, Kabupaten melalui Dinas Pendidikan, telah beberapa kali dilakukan. Namun, hingga saat ini realisasi pembangunan infrastruktur sekolah di Desa Medan Mas masih belum terwujud.
Keberadaan sarana pendidikan formal bukan sekadar tempat anak-anak belajar, melainkan juga menjadi salah satu indikator vital dalam mendongkrak Indeks Desa Membangun (IDM) Desa Medan Mas ke depan.
“Harapan kami pertama kepada Pemda Kabupaten Kubu Raya, bagaimana untuk mengatensi ataupun melaksanakan kegiatan pembangunan sarana-sarana sekolah dasar ini di Desa Medan Mas. Ini salah satu penunjang penting untuk IDM desa kita,” pungkas Wira penuh harap.
Bagi warga Desa Medan Mas, pendidikan merupakan jembatan masa depan anak-cucu mereka. Di tengah keterbatasan fasilitas fisik yang mendera selama 14 tahun ini, asa agar pemerintah daerah segera menghadirkan gedung sekolah di tanah sendiri tetap menyala, seiring deru ombak pesisir Kubu Raya yang tak pernah lelah menghantam daratan.
















