banner 728x250

Pendidikan Multikultural Kunci Perkuat Keindonesiaan di Era Globalisasi

banner 468x60

NARASIKALBAR.COM – Ketua Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalimantan Barat (Kalbar) Dr. Muhammad Firdaus menegaskan pentingnya pendidikan multikultural, terutama di Kalimantan Barat yang memiliki keragaman budaya.

Ia pun menyoroti hilangnya identitas generasi muda yang tercabut dari akar budayanya. “Dari hal inilah, ISNU Kalbar berkomitmen untuk memperkuat fondasi pendidikan karakter bangsa,” ujarnya.

banner 1024x1500

Hal tersebut Firdaus sampaikan saat menjadi keynote speaker pada Webinar Kebangsaan dengan tema “ISNU Sebagai Penggerak Pendidikan Multikultural Untuk Memperkuat Keindonesiaan di Era Globalisasi” secara daring pada Senin, (14/7/2025).

Webinar ini juga menghadirkan dua narasumber lainnya yakni Dr. Tsabit Azinar Ahmad selaku Dosen UNNES dan Sekretaris LTNU Semarang) dan Dr. (Cand) Suherdianto sebagai Wakil Ketua ISNU Kalbar dan Warek II UPGRIP Pontianak.

Penanggung jawab kegiatan, Muhammad Anwar Rubai mengungkapkan, pada Webinar ini membahas peran strategis pendidikan multikultural dalam menjaga keutuhan bangsa.

Ia yang menekankan peran strategis ISNU sebagai agen perubahan. “ISNU diharapkan dapat memajukan pendidikan yang toleran dan berkeadilan sosial, serta menjaga keutuhan NKRI melalui pendekatan pendidikan multikultural di tengah arus globalisasi,” ujarnya.

Urgensi Pendidikan Multikultural di Indonesia

Sementara itu, Dr. Tsabit Azinar Ahmad dalam menjelaskan, bahwa keragaman budaya, etnis, dan bahasa yang dimiliki Indonesia menjadikan pendidikan multikultural sebagai sebuah keniscayaan. Ia memaparkan bahwa secara historis, Indonesia merupakan titik silang peradaban yang membentuk masyarakat yang sangat beragam.

Menurutnya, pendidikan multikultural adalah konsep filosofis yang dibangun di atas cita-cita kebebasan, keadilan, kesetaraan, dan martabat manusia untuk membentuk masyarakat yang inklusif. Dr. Tsabit juga menguraikan lima dimensi pendidikan multikultural yang perlu diimplementasikan, yaitu integrasi konten, konstruksi pengetahuan, pengurangan prasangka, pedagogi kesetaraan, dan pemberdayaan budaya sekolah.

“Peran ISNU sangat penting dalam mengadvokasi nilai-nilai toleransi, menguatkan kurikulum multikultural, memberdayakan pendidik, hingga mencegah radikalisme dan menjadi mediator dialog antarbudaya,” ungkap Dr. Tsabit.

Konteks Multikulturalisme di Kalimantan Barat

Pada kesempatan yang sama, Dr. (Cand) Suherdianto memaparkan pada konteks Kalimantan Barat yang ia sebut sebagai “ikon multikultural” di Indonesia. Dengan Kota Singkawang sebagai salah satu simbol toleransi nasional, Kalbar memiliki kekayaan etnis, bahasa, dan kearifan lokal yang bisa menjadi kekuatan sekaligus potensi konflik.

“Sejarah Kalbar pernah mencatat rentetan konflik antar etnis dan budaya. Ini menjadi alasan kuat mengapa ISNU harus membumikan pendidikan multikultural di sini,” tegas Suherdianto.

Ia menerangkan beberapa peran strategis ISNU di Kalbar, antara lain melalui edukasi dan literasi nilai toleransi, penguatan moderasi beragama, mediasi sosial dan advokasi konflik, serta kolaborasi lintas etnis dan ormas. “ISNU harus memiliki SDM yang berwawasan multikultur dan terus melakukan kajian sebagai dasar masukan kepada para pemangku kebijakan,” tambahnya.

Sesi diskusi dalam webinar ini juga berlangsung dinamis, membahas berbagai isu aktual seperti cara mengatasi konflik di media sosial, hubungan antara pendidikan multikultural dengan nasionalisme, hingga tantangan globalisasi. Para narasumber sepakat bahwa pendidikan multikultural yang dialogis dan inklusif adalah jawaban untuk memperkuat identitas ke-Indonesiaan yang bineka.

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *