NARASIKALBAR.COM, PONTIANAK – Sebuah sejarah baru dalam upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Kalimantan Barat telah ditorehkan dengan dideklarasikannya Organisasi Penyintas TBC (OPT) di Kota Pontianak. Organisasi ini merupakan wadah bagi para penyintas TBC di seluruh Indonesia yang diinisiasi oleh POPTB (Persatuan Organisasi Penyintas TBC Indonesia) bersama PR Konsorsium Penabuli TPE dan dibantu oleh Yayasan Bina Asri sebagai sub-resipien komunitas di Kalimantan Barat.
Menurut Koordinator Program SR Tematik POP TB Indonesia, Khoirul Anas, pembentukan OPT ini merupakan langkah penting dan strategis. “Kenapa penting perlu ada OPT, Organisasi Penyintas di Kalimantan Barat? Karena dengan berkumpulnya para penyintas ini, penyintas itu kan orang yang sudah merasakan langsung beratnya pengobatan terkait efek samping obatnya, tantangan, stigma di masyarakat dan seterusnya itu,” ungkapnya usai deklarasi pembentukan META TBC sekaligus Stakeholder Meeting & Penyusunan Rencana Kerja Organisasi Penyintas TBC” di aula Gedung Administrasi RSUD dr. Soedarso, Rabu (10/12/2025).
Saat ini, lanjut Khoirul, di Kalimantan Barat sudah terbentuk 30 OPT. Tujuan utama organisasi ini adalah memberdayakan penyintas untuk memberikan dukungan dan pendampingan kepada pasien TBC yang saat ini menjalani pengobatan. Mereka yang telah sembuh setelah melalui pengobatan selama enam bulan, setahun, atau bahkan dua tahun untuk TBC resisten obat (TBRO)—memiliki pengalaman langsung yang sangat berharga dalam proses penyembuhan.
“Terutama yang menjadi core business kami adalah tadi di pendampingan. Mereka tahu persis bagaimana sih proses pengobatan TBC itu dilakukan sehingga mereka bisa sembuh,” tambah Khoirul.
POPTB tidak hanya berhenti pada pembentukan organisasi, tetapi juga memberikan dukungan legalitas dengan membiayai pengurusan akta notaris dan izin AHU.
Hari ini, acara stakeholder meeting diadakan dalam rangka memperkenalkan OPT kepada multi-sektor yang ada di Pontianak. Diharapkan ada kolaborasi dan sinergitas yang kuat dari berbagai pihak, termasuk OPD (Organisasi Perangkat Daerah), lembaga masyarakat, dunia akademisi, dan media.
Khoirul berharap OPT ini tidak hanya ada di Kota Pontianak, namun dapat berkembang di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Barat, sehingga upaya penanggulangan TBC dan dukungan terhadap pasien dapat dilakukan secara merata dan efektif.
“Ini satu sejarah lah, ada organisasi penyintas di Kalimantan Barat agar ke depannya bisa bersinergi lah dengan pemerintah, dengan semuanya untuk melaksanakan program-program tuberkulosis,” pungkas Khoirul.
Ketua META TBC, Sherly Pusvita mengungkapkan, bahwa data menunjukkan adanya sejumlah pasien TBC positif yang “tidak enroll” atau menolak menjalani pengobatan. “Tidak enroll itu ada pasien ternyata positif tapi tidak mau melakukan pengobatan,” ujar Sherly.
Penyusunan rencana kerja ini menjadi langkah penting untuk mengidentifikasi kebutuhan organisasi, meningkatkan kapasitas anggota, serta memastikan tersedianya program yang didukung oleh sumber daya yang memadai.
Sherly mengungkapkan, pengalaman pribadi sebagai penyintas yang telah merasakan perjuangan pengobatan dan efek samping obat TBC menjadi pendorong utama para anggota META untuk berkolaborasi dan membentuk organisasi.
Tujuan utama META adalah bergerak untuk mendampingi pasien yang sedang menjalani pengobatan. Setelah pasien sembuh dan menjadi penyintas, mereka akan diajak bergabung ke dalam META untuk memperkuat barisan pendamping.
Meskipun pendampingan dan pengawasan menelan obat (PMO) telah banyak dilakukan oleh komunitas dan kader, Sherly melihat adanya peran unik yang dapat diisi oleh penyintas.
“Teman-teman kader dan juga komunitas itu kan belum merasakan efek samping. Jadi, targetnya kami itu karena kami sudah merasakan, itu bergerak menjadi lebih dekat dan intimat ke teman-teman yang sedang melaksanakan minum obat itu,” jelasnya.
Efek samping obat TBC seringkali menjadi tantangan terbesar bagi pasien. Dengan pengalaman yang sama, para anggota META diharapkan dapat memberikan dukungan emosional dan praktis yang lebih mendalam.
Saat ini, karena META merupakan organisasi baru, pendampingan pasien TBC secara umum masih banyak dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas yang bertugas melakukan pengawasan.
















