NARASIKALBAR.COM, PONTIANAK – Pengrajin di Kota Pontianak Kalimantan Barat saat ini mulai melakukan pembuatan naga bersinar menjelang perayaan Cap Go Meh 2026 yang rencananya karnaval naga akan digelar pada awal Maret 2026.
Naga bersinar ini merupakan salah satu ikon utama dalam perayaan cap go meh di Pontianak. Bahkan jika berkaca pada tahun-tahun sebelumnya mampu menarik puluhan ribu pengunjung, bahkan ditargetkan mencapai 100 ribu pengunjung.
Namun demikian, dibalik megahnya naga bersinar yang berparade pertunjukan, ada proses panjang dan penuh ketelitian dari para pengrajin tradisional di Kota Pontianak. Salah satu adalah pengrajin naga di Pontianak, Ivan Noprianto (32). Ia merupakan warisan keluarganya selama tiga generasi sebagai ahli membuat naga yang diwariskan oleh ayahnya “Ilmunya saya dapat langsung dari bapak, dan sampai sekarang kami masih kerja bareng,” ujar Ivan
Hal tersebut disampaikan saat ditemui di lokasi pembuatan naga di Jalan Imam Bonjol, Gang Bansir 1, Kecamatan Pontianak Tenggara, (10/1/2026). Ivan menjelaskan, bahwa proses pembuatan naga bukanlah pekerjaan singkat. Namun memerlukan proses yang cukup panjang memakan waktu hingga dua bulan dalam satu unit replika naga, mulai dari pembuatan kepala naga hingga ekornya.
Dalam proses pembuatan replika naga bersinar, Ivan memulai dengan penyusunan rangka, pelapisan kain, hingga pemasangan ornamen berwarna-warni, seluruh tahapan ini dilakukan secara manual dengan tingkat ketelitian tinggi. “Yang paling sulit itu bagian kepala. Untuk kepala saja bisa sampai satu bulan,” kata Ivan.
Bagian kepala replika naga ini, pengrajin memang harus melakukan dengan tingkat kesabaran dan ketelitian serta kreativitas yang tinggi, mulai dari pembuatan tanduk, mata, hingga mulut agar terlihat persis layaknya naga hidup. “Bagian kepala naga ini juga memiliki bobot cukup berat, bisa mencapai sembilan sampai 10 kilogram,” kata Ivan.
Biaya Pembuatan Replika Naga Bersinar Capai Puluhan Juta
Replika naga bersinar menjadi salah satu ikon utama dalam perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak. Karnaval naga bersinar ini memang sangat dinanti masyarakat, bahkan mampu menarik puluhan ribu pengunjung.
Namun demikian, dibalik keunikan replika naga bersinar ini, ternyata membutuhkan biaya yang cukup fantastis. Salah satu pengrajin naga di Pontianak, Ivan Noprianto (32) menyebut, dalam satu unit replika naga membutuhkan biaya hingga puluhan juta rupiah.
“Untuk satu unit naga berukuran besar, biaya pembuatan diperkirakan mencapai kira-kira Rp40an juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan desain,” katanya.
Pada tahun ini, Ivan dan ayahnya hanya mampu menyelesaikan enam naga besar dan dua naga kecil, jumlah yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya mencapai sekitar 11 naga. Hal ini dikarenakan keterbatasan tenaga, mengingat dalam satu tim mereka hanya bekerja tiga orang saja. “Pesanan sebenarnya ada, tapi tenaga terbatas. Jadi kami fokus ke kualitas,” kata Irvan.
Hasil karya naga milik Ivan dan keluarga, dipasarkan di Kota Pontianak saja. Namun demikian karya pembuatan replika naga milik Ivan pernah mencatatkan sejarah naga terpanjang yang pernah dibuat mencapai panjang 60 meter dan digunakan oleh sejumlah kelompok naga ternama, seperti Sinar Berkah, Budi Pekerti, dan Merdeka.
Alasan Ivan Masih Setia Menjadi Kerajinan Replika Naga
Menjadi seorang pengrajin tradisional memang tidak semudah yang kita bayangkan, terlebih di era modern saat ini saingannya adalah teknologi. Namun tantangan itu bukan menjadi penghalang bagi Ivan Noprianto (32), warga Pontianak yang sudah menjadi gemeter ketiga sebagai pengrajin tradisional replika naga yang diwariskan oleh ayahnya.
Ketertarikan Ivan menjadi pengrajin ini, bermula sejak ia masih kecil sering melihat ayahnya bekerja membuat replika naga.
Menurut Ivan, proses belajar menjadi pengrajin replika naga ini tidaklah mudah dan memerlukan waktu cukup panjang. “Lama pak, kira-kira mau tiga tahun,” kata Irvan menjawab pertanyaan awak media terkait proses belajar menjadi pengrajin replika naga.
Bagi Ivan, menjadi pengrajin replika naga bukanlah hanya sekadar pekerjaan, melainkan seni dan menjadi bagian upaya menjaga warisan budaya leluhurnya.
“Naga itu simbol keberuntungan dalam budaya Tionghoa. Karena itu selalu jadi bagian penting dalam perayaan,” ungkap Ivan.
Kemampuan kreativitas pengrajin seperti Irvan dan ayahnya ini menjadi bukti nyata, bahwa karya tradisional masih dibutuhkan oleh publik. Bahkan hasil karyanya juga mampu menarik perhatian wisatawan mancanegara datang ke Kota Pontianak Kalimantan Barat seperti perayaan Cap Go Meh tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, pengrajin tradisional juga mampu menghidupkan warisan budaya leluhur sekaligus menjaga nilai dan estetika buaya untuk tetap dilestarikan dari generasi ke generasi.
















