banner 728x250

PMII Kembali ke Akar Intelektual; Catatan kecil untuk Kader Pergerakan

banner 468x60

NARASIKALBAR.COM — Sebelum memulai tulisan ini, izinkan saya terlebih dahulu merendahkan diri. Tulisan ini tidak lahir dari seorang kader yang merasa telah menyelesaikan seluruh pengabdiannya di organisasi, apalagi dari seseorang yang mengklaim dirinya paling lurus secara ideologis. Saya pun menyadari sepenuhnya bahwa saya bagian dari barisan kader yang kadang luput dari kebiasaan membaca dan tidak jarang terjebak dalam rasa nyaman yang meninabobokan.

Namun justru karena kecintaan terhadap organisasi inilah saya merasa tidak cukup hanya menjadi penonton yang diam dan bertepuk tangan. Tulisan ini hadir sebagai ajakan untuk kita semua termasuk saya sendiri agar kembali menjadi kader PMII yang utuh, yang sungguh-sungguh menumbuhkan nalar kritis dan tidak menjalani proses kaderisasi secara setengah hati.

banner 1024x1500

Jika kita menengok kondisi organisasi hari ini, yang tampak di permukaan adalah gambaran yang penuh semangat. Jas biru tetap dikenakan dengan penuh kebanggaan, berbagai kegiatan berlangsung meriah, dan ruang digital dipenuhi dokumentasi keberhasilan program-program organisasi.

Namun di balik semua itu, ada kegelisahan yang sulit diabaikan, semakin menipisnya tradisi berpikir di kalangan kader.
Tanpa disadari, kita sedang berhadapan dengan gejala melemahnya budaya intelektual. Banyak kader yang lebih piawai merangkai kalimat indah di media sosial dibandingkan mengulas buku atau memperdalam gagasan secara serius. Kehadiran di dunia digital sering kali lebih diutamakan dibandingkan proses pematangan cara berpikir.

Padahal sejak awal berdirinya, PMII bukan hanya wadah aktivitas organisasi, melainkan juga ruang pembentukan intelektual muda yang diharapkan mampu membaca realitas sosial secara kritis dan ilmiah.

Dulu, organisasi ini dikenal sebagai tempat lahirnya kader-kader yang akrab dengan buku, diskusi panjang, dan perdebatan gagasan yang berlangsung hingga larut malam. Sekretariat bukan sekadar tempat berkumpul bermain kartu semata, melainkan ruang belajar bersama tempat ide-ide diuji dan wawasan diperluas.

Sayangnya, tradisi semacam itu perlahan mulai memudar, hal serupa juga terlihat dalam pemaknaan militansi kader. Militansi kerap dipahami sebatas keberanian tampil di depan forum atau keramaian dalam kegiatan organisasi. Padahal makna militansi yang sesungguhnya terletak pada ketekunan belajar, konsistensi dalam bergerak, serta kesediaan untuk tetap berpihak pada masyarakat yang lemah.

Apabila kecenderungan pragmatis terus berkembang di mana jabatan lebih diburu daripada gagasan, dan popularitas lebih diutamakan daripada kedalaman berpikir maka organisasi kader seperti PMII perlahan bisa kehilangan jati diri gerakannya.

Seorang kader yang utuh seharusnya tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga memiliki kedalaman intelektual dan komitmen pengabdian sosial. Kedua hal tersebut harus berjalan beriringan agar organisasi tidak terjebak dalam rutinitas seremonial semata.

Tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai tudingan kepada siapa pun. Sebaliknya, ini adalah bentuk refleksi bersama yang seharusnya juga diarahkan kepada diri penulis sendiri. Kritik yang lahir dari rasa memiliki semestinya dipahami sebagai pengingat bahwa organisasi ini pernah memiliki tradisi intelektual yang kuat dan dihormati.

Di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks mulai dari persoalan demokrasi hingga ketimpangan sosial, organisasi kader seperti PMII justru dituntut melahirkan generasi yang tidak hanya berani bergerak, tetapi juga matang dalam berpikir.

Karena itu, sudah saatnya kita kembali meneguhkan arah. Kita perlu kembali menapaki jalan intelektual, mendekatkan diri pada buku, menghidupkan kembali diskusi-diskusi yang mencerahkan, serta menumbuhkan tradisi berpikir yang menjadikan organisasi ini dihormati bukan karena besarnya massa, melainkan karena kualitas gagasan para kadernya.

Sebab pada akhirnya, organisasi yang benar-benar besar bukan hanya yang ramai kegiatan saja, tetapi yang mampu melahirkan pemikiran-pemikiran penting bagi kehidupan masyarakat.

editor: Fahrurrozi

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *