RRI.CO.ID, Pontianak – Momen Idul Fitri di Kota Pontianak tahun ini membawa beragam cerita, mulai dari hangatnya hidangan khas keluarga hingga kendala akses bahan bakar minyak yang membayangi perjalanan para mudik.
Perayaan Idul Fitri selalu identik dengan kehangatan keluarga dan hidangan meja makan. Warga Kecamatan Pontianak Barat, Sri Wahyuni, mengaku tetap mempertahankan tradisi menyajikan menu wajib seperti rendang, opor ayam, dan ketupat. Meski harga daging sapi sempat menyentuh angka 175 ribu rupiah per kilogram serupa dengan tahun lalu hal ini tidak menyurutkan semangat warga untuk merayakan kemenangan.
Namun, di balik sukacita lebaran, terselip harapan besar dari warga terkait stabilitas distribusi BBM. Fenomena antrean panjang di SPBU menjadi sorotan utama.
“Harapannya supaya BBM kita segera kembali normal seperti sebelumnya, tidak antre panjang. Untuk Pontianak, harapannya semoga semakin jaya, maju, damai, dan warganya tetap kompak. Pokoknya semakin baik-baik saja,” ujar Sri Wahyuni usai melaksanakan shalat Id di Jalan Rahadi Usman depan Kantor Wali Kota Pontianak, Sabtu, 21 Maret 2026.
Kelangkaan BBM nyatanya tidak hanya dirasakan oleh warga lokal, tetapi juga berdampak langsung bagi para pemudik. Kenny Anggrani, warga Pontianak Barat yang pekerja administrasi di Kabupaten Bengkayang setiap tahunnya pulang ke Pontianak, merasakan betul dampaknya. Kenny sempat kesulitan mendapatkan transportasi umum karena banyak armada taksi yang tidak beroperasi akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar.
“Kendala mudik balik lagi ke BBM ya. Kemarin sempat susah cari taksi karena beberapa tidak jalan karena BBM kosong. Tapi alhamdulillah akhirnya dapat. Saya merasa tahun ini juga agak lebih sepi yang mudik dari Bengkayang ke Pontianak, mungkin karena ada program mudik gratis atau faktor lain,” ungkapnya.
Meski diwarnai tantangan logistik, semangat Idul Fitri di Kota Khatulistiwa tetap terjaga. Harapan akan kemajuan kota dan kemudahan akses kebutuhan pokok menjadi doa utama warga di hari yang fitri ini.
















