banner 728x250

Bantu Warga Lepas dari Kecanduan, Seluruh Puskesmas di Pontianak Miliki Klinik Berhenti Merokok

banner 468x60

NARASIKALBAR.COM, PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat upaya menekan angka perokok dengan menyediakan layanan khusus di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Saat ini, seluruh Puskesmas di Kota Pontianak telah disiapkan untuk melayani masyarakat yang ingin berhenti merokok melalui Klinik Berhenti Merokok.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, mengungkapkan bahwa petugas di setiap Puskesmas telah menjalani pelatihan khusus untuk mendampingi masyarakat dalam melewati masa transisi melepaskan ketergantungan pada rokok.

banner 1024x1500

“Semua Puskesmas sudah kita setting dan kita latih petugasnya untuk membantu masyarakat yang berkeinginan berhenti merokok. Karena berhenti merokok itu tidak mudah, mereka harus menghadapi berbagai efek ketika putus merokok,” ujar Saptiko.

Pendampingan Medis dan Psikologis
Saptiko menjelaskan bahwa niat saja seringkali tidak cukup. Berhenti merokok memerlukan strategi, penanganan medis, hingga dukungan psikologis agar seseorang bisa benar-benar berhenti secara permanen. Tanpa pendampingan yang tepat, gejala putus nikotin seringkali membuat seseorang kembali merokok.

Terkait bahaya kesehatan, Saptiko mengingatkan kembali bahwa rokok konvensional maupun rokok elektrik (vape) mengandung zat kimia berbahaya yang memicu penyakit kronis, seperti kanker, penyakit jantung, penyakit paru, hingga tumor paru.

Minim Peminat: Berhenti Saat Sudah Sakit
Meski layanan sudah tersedia secara luas, Saptiko mengakui tingkat pemanfaatan Klinik Berhenti Merokok masih tergolong rendah. Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk berhenti atas kemauan sendiri masih menjadi tantangan besar.

“Memang pemanfataannya masih kurang, kesadaran masyarakat juga masih kurang. Berhenti merokok ini susah sekali, apalagi kalau sudah merokok dalam waktu lama. Perlu kondisi (tekad) yang sangat kuat,” ungkap Saptiko.

Fenomena yang terjadi di lapangan, lanjut Saptiko, mayoritas warga baru memutuskan berhenti merokok ketika kondisi kesehatan mereka sudah memburuk atau telah didiagnosa menderita penyakit tertentu.

“Biasanya orang berhenti merokok kalau sudah ada penyakit, atau keluarganya ada yang sakit baru dia berhenti. Jadi seolah-olah terpaksa karena keadaan,” pungkasnya.

Saptiko mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu sakit dan segera memanfaatkan layanan konsultasi gratis di Puskesmas terdekat demi kualitas hidup yang lebih baik.

banner 325x300
Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *