NARASIKALBAR.COM, PONTIANAK – Tim Pelaksana Kegiatan Hibah Dana Indonesiana Tahun 2026 bergerak taktis dalam menyempurnakan luaran riset kebudayaannya. Bertempat di Hotel Orchardz Jalan Perdana, Kota Pontianak, tim menggelar Focus Group Discussion (FGD) terfokus bertajuk “Preservasi Seni Bela Diri Pencak Silat Aliran Kijang Berantai pada Suku Melayu Kalimantan Barat”.
Program strategis ini didanai penuh oleh Dana Indonesiana (LPDP) melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia guna menyelamatkan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang masuk kategori rawan punah.
Ketua Tim Pelaksana, Maharani Fatima Gandasari menjelaskan, FGD ini merupakan ruang krusial untuk membedah draf buku digital dwibahasa serta draf video dokumenter yang telah diproduksi oleh tim. “Kami mengumpulkan para pemangku kepentingan, mulai dari ahli sejarah, seni pertunjukan, pelatih, guru sekolah, hingga otoritas kebudayaan untuk mendapatkan kritik dan saran yang konstruktif agar produk luaran ini benar-benar autentik, akademis, dan menarik bagi generasi muda,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Sinergi Lintas Sektoral: Dari Birokrat hingga Atlet
Forum ilmiah ini juga dihadiri oleh jajaran tokoh penting dan para pakar lintas disiplin di Kalimantan Barat. Dari jajaran pembuat kebijakan dan pelestari hadir Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Kalbar, Juliadi, Ketua IPSI Provinsi Kalimantan Barat, Alexander Wilyo, serta Ketua IPSI Kota Pontianak, Dede Martin Kurniawan. Sementara, dari silsilah pewaris sah keilmuan, hadir langsung Mahaguru Kijang Berantai sekaligus Wakil Bupati Sambas, H. Heroaldi Djuhardi Alwi, didampingi perwakilan keluarga inti maestro, Dra. Harlia.
Kehadiran mereka memastikan nilai historis dari tahun 1870 di masa Kerajaan Sambas hingga perjalanan sang pengawal pribadi Sultan Van Sambas (H. Alwi Bakran) tetap terjaga keasliannya di dalam draf buku. Diskusi berjalan dinamis berkat kontribusi aktif panel akademisi dan praktisi, di antaranya: Rumpun Sejarah & Budaya: Andang Firmansyah dan M. Rikaz Prabowo (Dosen Pendidikan Sejarah).
Kemudian, Rumpun Seni & Olahraga: Witri Suwanto, Fachrurrozi Bafadal (Dosen Ilmu Keolahragaan), serta Aline Rizky Oktaviary, dan Zakarias Arya Widiyatama (Dosen Seni Pertunjukan).
Selanjutnya, praktisi lapangan yakni para pelatih senior Kijang Berantai (Ana Rohana & Amira Pak), sejumlah guru olahraga dari jejaring SDN dan SMPN/SMAN di Pontianak, para atlet, serta mahasiswa ilmu keolahragaan.
Hasil Revisi Draf Buku dan Video Dokumenter
Berdasarkan lembar notulensi resmi tim IT (Ghana Firsta Yosika dan Rizki Hazazi Ali, ) bersama sekretaris Fitriana Puspa Hidasari, terdapat sejumlah poin perbaikan esensial yang disepakati bersama dalam forum untuk langsung diterapkan pada draf final:
- Penyempurnaan dan Estetika Audio-Visual (Video Dokumenter):
Identitas Pemberi Dana: Menambahkan logo resmi Kementerian Kebudayaan RI dan Dana Indonesiana pada bagian opening video.
Alur dan Narasi (Storyboard): Menyusun ulang storyboard agar alur cerita mengalir lebih jelas, membatasi penggunaan video berbasis AI, serta menyesuaikan durasi tayang yang ideal.
Deskripsi Teknis Jurus: Menambahkan penamaan gerakan dan teks deskripsi visual secara eksplisit di setiap peragaan jurus agar dapat dijadikan panduan belajar mandiri.
Ruh Kebudayaan Lokal: Memasukkan dokumen rekaman asli (footage history) dari para maestro terdahulu, menyertakan perspektif dari narasumber pembanding, menampilkan landmark bersejarah perguruan, serta menata estetika latar belakang (background) agar lebih kental dengan nuansa adat Melayu Kalimantan Barat.
Aksesibilitas Global: Memberikan takarir (subtitle) bahasa Inggris di sepanjang video dokumenter. - Pengayaan Substansi Draf Buku Digital:
Eksistensi & Kelas Baku: Memperkuat ulasan mengenai standardisasi kelas baku di Padepokan Kiber serta menegaskan peta eksistensi Pencak Silat Kiber di kancah regional maupun internasional.
Struktur Integrasi: Buku ini dikonfirmasi mencakup pembahasan komprehensif mulai dari kerangka etnografi masyarakat Melayu, sejarah silsilah pahlawan Sambas, analisis struktur gerak 16 Jurus Mata Angin, hingga strategi pelestarian berbasis integrasi kurikulum pendidikan sekolah dasar dan menengah.
Melalui pelaksanaan FGD ini, draf Bilingual Digital Book dan video dokumenter preservasi Pencak Silat Aliran Kijang Berantai dipastikan siap memasuki tahap finalisasi. Langkah digitalisasi kebudayaan takbenda ini diharapkan mampu menjadi benteng kokoh dalam menjaga ketahanan budaya lokal Kalimantan Barat sekaligus mengenalkan mahakarya ksatria Melayu ke panggung dunia internasional
















